Chapter V – Pada akhirnya, ini belum berakhir.
Kasmaran, mungkin kata orang
aku begitu padamu.
Ya, itulah kalau aku sudah
memilih. Kamu yang tersayang dan kamu yang tercinta. Agak lebay mungkin kalau
dibaca, tapi ini kenyataannya. Tak ada yang perlu aku sembunyikan ataupun ku
tahan.
Sejauh ini, belum ada yang berubah
antara aku dan kamu.
Bagiku, aku masih dengan aku
yang sama, yang selalu semangat membangunkan kamu untuk sholat walaupun
terkadang kerap lupa. Aku juga masih aku yang sama, yang mengoceh tak henti
tentang apapun di hidupku. Aku juga masih aku, yang tetap merindukanmu setiap
hari, yang tidak pernah ingin pulang saat aku bersamamu. Dan aku juga masih
aku, yang tetap merepotkanmu dengan segala masalahku, keluhanku, kebutuhanku.
Maafkan aku terlalu banyak membebanimu.
Aku tahu, hal tentang rencana
kepergianku sangat memberatkanmu.
Tak ada yang lain yang bisa ku
katakan selain maafkan aku.
Kamu bukanlah sebuah pilihan,
diantara apapun!
Kamu adalah bagian hidupku
yang tak perlu aku pilih diantara apapun dan siapapun.
Kumohon jangan pernah
memintaku untuk membuat pilihan antara dirimu dan mimpiku apalagi orang tuaku.
Aku tahu kamu tidak akan melakukan itu, tapi aku hanya tak ingin berkesan bahwa
aku harus menentukan sebuah pilihan, ku tak mau.
Izinkan aku tetap berjalan
bersamamu, disampingmu, didalam hatimu.
Tapi..
Seperti yang pernah kukatakan.
Kamu pasti begitu merasa berat,
begitupun aku. Tapi beratny aku, tidak akan pernah memaksa kamu dalam hal
apapun. Karena aku sayang kamu.
Aku hanya berharap kamu
mengerti.
Ya aku tahu, kamu pasti lelah
karena aku terus meminta kamu untuk mengerti aku. Maafkan aku,
Kadar kecintaanku padamu sudah
melewati batas, aku bilang aku siap atas segala resikonya. Saat ini aku berkata
begitu, tak tahu nanti.
Aku tidak pernah berniat untuk
menahanmu, namun aku tak pernah ingin kehilanganmu. Maaf karena aku egois, lagi
lagi egois.
Pada akhirnya, ini memang
belum berakhir.
Pintaku pada tuhan, apapun
yang terjadi diantara kita, kuatkan hatiku, kuatkan hatimu. Jodoh memang tidak
datang seketika, aku percaya jodoh dipilih atas faktor usaha dan doa. Dan aku
berharap takdir tuhan tidak pernah berubah dalam menulis nama kita berdua.
Maafkan aku yang pada akhirnya
perlahan menyakitimu.
Mungkin jika kamu bertanya,
“Jika kita sudah dekat dari
dulu (semasa kuliah), apakah aku akan bosan dengamu ?” kujawab, “bosan bukan
ukuran bagiku, karena bosan tidak direncanakan, jadi untuk apa memastikan
sesuatu yang tidak pasti kapan datangnya”
Atau jika kamu bertanya,
“Jika kita sudah dekat dari
dulu, apakah aku akan tetap pergi mengejar mimpi ku ?” kujawab, “Ya. Aku masih
akan seperti itu, karena ini bukan tentang aku saja, ini tentang seluruh harga
dan martabat keluargaku, tidak ada yang bisa menghentikan jika memang
kesempatan itu ada”
Coba sekarang aku yang
bertanya,
“Jika kita sudah dekat dari
dulu, apakah kamu akan tetap bersamaku jika kamu sudah tau dari dulu aku punya
mimpi seperti itu ?” Silahkan dijawab, jika kamu mau. Karena itu seharusnya
sudah mewakili semua pertanyaanku.
Aku tak perlu lagi bertanya “apakah
kamu masih mau menungguku jika aku nanti pergi ?” karena itu adalah pertanyaan
menyakitkan, aku tahu itu.
Kamu tak perlu bimbang atas
masa depanmu. Apalagi jika itu karena aku. Tapi, Satu hal yang harus kamu tahu,
aku tak berniat untuk bimbang atas masa depanku denganmu, kapanpun , ketika aku
masih bernafas aku akan tetap memilihmu, sampai tuhan berkehendak lain.
Pada akhirnya semua adalah tentang aku dan kamu.
Kamu yang selalu berkata “iya” dan selalu tersenyum, membuat aku selalu bertahan nyaman disampingmu.
Bosan, kita sepakat bosan adalah suatu hal wajar yang pasti akan hinggap diantara kita.
“Bosan itu PASTI, tapi kita tak SALING PERGI” , aku suka lirik itu, salah satu lirik lagu #TemanTapiMenikah. Aku pun berharap begitu, apapun yang terjadi aku berharap kita tidak saling pergi.
Pada akhirnya, aku yakin ini belum berakhir.
Sekali lagi, ingatlah..
“berat yang juga kurasakan, tidak akan pernah memaksamu, untuk apapun”
Komentar
Posting Komentar