Chapter I - Aku Lupa. Tapi Aku ingat.

Aku sulit mengingat hal-hal di masa lampau, katakanlah aku memang pelupa. Entah sejak kapan aku memberikan label “pikunan” pada diriku. Padahal pikun dan pelupa itu berbeda. Ya sudahlah. Jangankan di masa lampau, terkadang apa yang kemarin aku katakan dan kulakukan pun aku lupa. Mungkin kamu sekarang sudah terbiasa, dan sudah tau itu.

Entah di tahun, bulan, hari yang keberapa aku tau kamu. Itu sulit. Yang pasti, kamu masuk ke kampus itu di tahun kedua ku. Aku disemester 3 dan kamu masuk di kelas angkatan atas ku di semester 5. Bahkan pertama kali kita saling menyapa pun aku tak tau, ini sudah bukan lupa lagi namanya he-he. Entah sekedar saling melintas, saling tersenyum, atau saling menyapa.
Aku pun lupa kapan pertama kita pergi bersama.
Coba ku ingat...

Waktu itu kakak kelas ku yang menjadi teman kita berdua (kamu tau siapa kan) ternyata mengajakku pergi untuk menikmati suasana jakarta (yaa katakanlah begitu). Dia bilang ada kamu. Dia bilang kamu dan teman kalian ingin pergi main billiard. Waktu itu aku kaget, Ah untuk apa aku diajak ketempat macam itu dengan aku yang tampil berhijab. Tapi entah, anehnya aku ikut dan ingat ? Aku satu-satunya yang berpenampilan aneh disitu. Ya aku tau itu bukan tempat yang besar dan terlarang sekali, tapi aku pede sajalah.

Selesai dari sana, kalau aku tidak salah kita pergi menyusuri kota jakarta dan memutuskan untuk pergi ke taman. Taman Suropati namanya. Disitu aku baru merasa, oh begini rasanya keliling jakarta di malam hari. Hingga akhirnya kembali pulang ke tempat masing-masing.

Jika ditanya, apakah setelah itu ada perasaan yang aneh? Tentu tidak. Aku pun tidak sempat untuk berasumsi bahwa kamu memang menyukaiku saat itu. Untuk tau apakah kamu sedang in relationship pun tidak. Bahkan kalau tidak salah, waktu itu aku belum punya kontakmu sama sekali bukan ? Tapi, aku tau kamu baik.

Entah dikemudian hari apa yang terjadi antara aku dan kamu, secara detail oke maafkan aku, aku sungguh lupa. Selanjutnya mungkin aku akan menceritakan bagian-bagian tentangmu yang aku ingat saja.

. . .

Kamu pernah cerita, kalau dulu pertama kali kamu menghubungiku karena urusan mata kuliah bukan ? Kamu bilang kamu sipen salah satu mata ajar itu, dan aku juga. Mata ajar itu diajar oleh dosen yang sama, dan mata ajar di semester 3 dan 5 itu memiliki keterkaitan, jadi itulah alasannya mengapa kita saling bertukar kontak. Oops maaf, kamu yang meminta kontak ku kepada salah satu teman kelasku, jadi kamu duluan ya :D

Sekali lagi, aku lupa apa yang telah kita bahas. Apakah aku harus skip bagian ini ? Oke, baiklah.

. . .

Di lain waktu kamu pernah mengajakku makan, kamu mengajakku nonton bioskop. Sejujurnya, aku tidak ingin terlalu menjadi kepedean atas sikapmu, tapi mungkinkah kamu benar-benar suka pada ku ? Aku selalu menganggap ajakanmu sebagai sebuah ajakan. Ya tidak lebih dari “Oh, dia ngajak gue makan, oke gue temenin deh” .

Aku tak pernah berniat bertanya apapun tentang kamu. Yang ku tau, kamu kakak kelasku, kelasmu tepat disamping kelasku, kita satu jurusan, kita berteman, dan (mungkin) kamu suka padaku. Hanya itu.

. . .

Selamat ya, kamu sarjana.
Kurasa aku belum mengucapkan selamat untukmu pada waktu itu, karena waktu itu akupun tidak datang ke sana. Aku lupa sedang dimana. Katakanlah itu di tahun 2015.

Satu tahun kemudian, kita wisuda bersama.
Aku sarjana, kamu menyelesaikan kuliah profesimu. Aku ingat waktu itu kita wisuda di waktu yang berbeda, dan kamu datang di siang hari ketika aku resmi menjadi sarjana, aku ingat bunga itu. Bunga pertama yang kamu berikan, terserah dibalik itu untuk memberikan selamat atau hanya sekedar memberikan, yang penting itu dari kamu. Ya mungkin dulu akupun tidak menganggap itu sebagai hal yang berlebihan, tapi kalau dipikir-pikir harusnya aku memuseumkan bunga itu juga :D.

Oh iya, aku ternyata memustuskan untuk lanjut kuliah profesi. Ya, itu berkat kamu. Kamu ingat, aku pernah bilang “kak, kalau sampe aku jadi ambil profesi, itu gara-gara kakak”. Dan ya, aku ingat sekali kamu menjadi salah satu tempat ku berkeluh kesah tentang keputusanku dan ke-kepo-an ku tentang profesi ners. Seberapa berat menjalaninya, seberapa lama aku harus bertahan, dan kamu bilang itu tidak sesulit yang kita bayangkan. Dan aku suka itu.

Kemudian, aku menyadari bahwa aku menjadi sangat berjarak padamu. Ya, aku sadar itu. Jarak itu semakin melebar hingga aku pun menghilang darimu. Saat itu entah apa yang kupikirkan, aku tak pantas untukmu ? Kamu terlalu baik bagiku ? Kita tidak akan cocok ? Atau karena aku masih ingin mencari yang lain. Akupun memutuskan untuk belum membuka sedikitpun pintu hatiku untukmu meskipun hampir semua orang memintaku untuk bersamamu. 

Aku fokus dengan kuliah profesiku, dan kamu... entah kamu dimana.
Akupun lupa mungkinkah itu saat pertama kita tidak berkomunikasi ?

Entahlah...
Maafkan aku.

p.s. :
oh ya aku lupa. tapi aku ingat kita punya beberapa hobi yang sama.
* Movie Addict / XXI Lovers
* Traveller to be (walaupun aku belum sering)
* Durians Addict
* Late Wake Up person.
* dan yang lainnya belum ditemukan he-he

Komentar

Postingan Populer