Chapter II - Hilang - Timbul, dan Kembali.

Line Chatting ku berbunyi. Itu kamu. Hai, Hallo, Apa kabar, Apakah kamu masih dengan rasa yang sama ?.

Ya, rasanya aku ingin bertanya itu. Meski aku tak pernah mengharapkan apapun dari perasaanmu, karena aku tau kamu punya seseorang yang terkadang kamu rindukan bukan ?.

Semua chat mu pasti berawal dengan memanggilku “Nat, ....” padahal kalau mau jujur aku itu kurang suka dipaggil dari penggalan nama asliku “Nat-Tas-Sha” apalagi Maretha. Tapi kamu tetap memanggilku “Natt”. Entah aku sudah pernah menegurmu atau belum, kamu hanya bilang "biarin, biar beda manggilnya dari yang lain". Setelah itu kamu seringkali bertanya “Lagi apa”, “Lagi dimana”, “Lagi ngapain”, ya aku tau itu adalah pertanyaan yang sangat amat umum di chat, dan untuk apa “mem-baper-kan” chat macam itu bukan ? Lalu, kamu pun kerap kali bertanya “Udah makan belum ?” , “Udah nonton film ini belum”, “Laper gak? Mau makan ini gak ?”. Dan pada akhirnya semua ajakan itu aku “iya-kan”.

Setelah ajakanmu, dan lagi aku memutuskan untuk menemanimu. Tapi pada akhirnya semua itu hanya sekedar itu saja. Mungkin tanpa kusadari akupun tidak pernah meneruskan chattingan mu sehabis kita pergi atau mencoba untuk memulainya. Sehingga aku pernah berpikir dan takut bahwa kamu kira aku menghubungi mu ketika ada maunya. (Eh, tapi kamu pernah mikir gitu beneran gaksih ?) .

Katakanlah kita mulai kenal satu sama lain pada 2013.
Sejak 2013 hingga 2016 berjalan pun aku sama sekali acuh padamu bukan ? Oh tuhan, maafkan aku. Apakah aku sejahat itu ? Ya, kamu boleh beranggapan seperti itu, sampai aku pun meyakini bahwa semua teman dekatmu selalu membicarakan aku yang “menolak” mu masuk ke pintu hatiku, jangankan masuk, mungkin ibarat baru mengetuk pintu, aku sudah menolak. Tapi kamu harus tau, tak ada satupun yang salah denganmu, karena itu tentang aku. Hanya tentang aku.

Oh iya, setelah kita wisuda bersama, aku ingat kamu mengajakku pergi, kalau tidak salah kamu juga sempat mengajakku untuk pergi bersama keluargamu tapi entah kenapa tidak jadi. Atau aku salah ingat ? Yasudalah, tapi yang pasti aku ingat pertama kali kamu mengajakku makan di Surabi Enhaii Bandung di Jakarta (aku lupa nama daerahnya he-he), waktu itu kita pergi bertiga sama temanmu. Sekedar makan malam, dan mencoba makanan kesukaan mu, kesukaanku, kesukaan kita berdua, surabi durian.

Diwaktu yang lain, Aku bahagia dengan seseorang, aku merasa bahagia. Namun tak berlangsung lama, Aku pun tengah berkutat dengan masa laluku dan sibuk memilih siapa yang kujadikan isi di lembaran baruku. Namun tanpa kusadari, ketika aku telah disakiti seseorang, aku pun menyakiti seseorang, tak hanya kamu, ada banyak...

Oh iya, aku baru ingat. Kamu pergi berlibur ke hongkong dan macau waktu itu. Kamu tau, setiap aku tau kamu berpergian aku ingin sekali seperti itu, walaupun tak terlihat bahkan tidak pernah terlihat, tapi travelling itu adalah salah satu hasratku yang sangat jarang ku wujudkan. Kamu ingat? Kamu mengirimkan gambar, kamu memotret ponsel yang ada gambar kita berdua saat makan di surabi durian enhaii dengan latar belakang Disneyland Hongkong. Dan aku suka.

Berbulan-bulan setelah itu, Kamu hilang, entah kemana. Yang kutahu kamu sudah bekerja di Depok. Aku ingat, sesekali kamu menghubungiku untuk sekedar mengajakku makan, karena kamu sedang berada di jakarta. Dan lagi-lagi untuk kesekian kalinya aku hanya menganggap itu sebagai “nemenin kamu , tak pernah aku berpikir, bisa saja kamu rindu , atau kamu ingin bicara banyak denganku, atau malah ada niat untuk kembali mendekatiku. Sama Sekali Tidak.

Sepulang dari sana, seingatku waktu itu kamu memberikan aku hadiah, pajangan kalender kayu berbentuk panda. Dan AKU SANGAT SUKA SEKALI. Kamu bilang itu dibeli ketika kamu di hongkong dan tak lama dari moment ulang tahunku, kamu bilang “anggap aja kado deh, padahal udah lama mau kasih tapi gak kesampean”.

Di moment lain, kamu tiba-tiba kontak aku lagi, mengajakku untuk menjenguk teman mu yang terkena musibah kecelakaan lalu lintas. Meski waktu itu aku ragu, tapi akhirnya aku pun bersedia ikut. Dan setelah itu lagi-lagi kita berjarak.

Kamu tau, aku selalu merasa bersalah. Setiap moment ulang tahunmu, aku tidak pernah mengucapkan apapun, kurasa tidak sama sekali bukan ? Tak usah memberi bingkisan, sekedar mengetik ucapan pun aku tidak. Ada apa denganku waktu itu ? Entahlah, rasa itu muncul ketika kamu berulang tahun pada 2017 lalu.

. . .

Di akhir-akhir ku menyelesaikan kuliah profesiku, aku dekat dengan seseorang yang baru kukenal semasa praktek ku di salah satu Rumah Sakit. Jika aku flashback, aku sama sekali tidak menyadari bahwa disaat itu pula kamu sedang berkali-kali mendatangiku, yang ku kira hanya sebagai kunjungan biasa saja. Kamu pasti ingat moment dimana kamu datang dan kita berdua pergi makan, lalu memutuskan untuk mendatangi salah satu sahabat kita yang sedang praktik di Puskesmas. Aku ingat kemarin kamu bilang “Kalau waktu itu aku tau kamu bakal nemuin orang lain, aku gak akan ajak kamu pergi” . Ya, waktu itu aku masih egois dan aku masih merasakan keegoisan itu hingga detik ini. Terasa jelas, jelas menyakiti. Aku pun tak percaya aku bisa sejahat itu. Tak pernah memikirkan perasaan mu, dan aku selalu melakukan apapun atas dasar sesuka ku dan menganggap kamu pasti mengerti.

Sahabat kita bilang, dibalik itu semua kamu selalu datang bukan hanya sekedar berkunjung, ketika aku tidak ada ditempat, kamu selalu bertanya aku dimana, dengan siapa, sedang apa. Mungkin menurutmu aku berubah, karena aku pun merasa aku berubah, sedikit aneh dan menjauh dari orang terdekat semenjak bersama kenalan itu. Dan Aku menyesal. Jauh dalam hati kecilku aku menyesal mengetauhi semua kenyataan itu. Maafkan aku, Sungguh, Maafkan aku... Maaf.

. . .

Pada akhirnya aku melewati masa peralihan itu.

Mungkin kamu sempat berniat untuk menghilang lagi bukan ? Ingin mundur sepertinya.Tapi pada titik itu, aku sadar, aku tak perlu banyak mencari ketika aku tau disana ada kamu. Disaat itu, aku memasrahkan hatiku kepada Allah dan memilih untuk mencoba membuka semua pintu di diriku, untukmu, selamanya.

Komentar

Postingan Populer