Chapter III - Aku sudah mencoba. Dan Kurasa Aku Berhasil.
Mungkin banyak orang melihatku
terlalu mudah menyukai atau bahkan mencintai. Perkara bersama siapa aku, mereka
tak peduli. Mereka hanya tak mengerti bahwa bersikap baik bukan berarti mudah
mencintai. Lalu Aku menemukan fakta baru, bahwa tidak ada untungnya memaksa
dalam cinta. Begitupun aku, aku tak perlu memaksa diriku untuk mencari siapa
pelengkap hidupku karena semua yang dipaksa, memang tak akan baik.
Aku sudah lupa bagaimana
rasanya menghidupkan suasana ketika sedang berdua denganmu. Kamu pendiam.
Namun, aku tak pernah berhenti berbicara hanya demi mengusir canggung antara
kita.
Aku sudah lupa bagaimana
rasanya berkeluh kesah tentang semua hal yang kualami setiap hari dan bercerita
denganmu sebagai orang yang baru. Namun, aku tak pernah berhenti memulai
hari-hariku hanya demi mendapatkan hal baru untuk diceritakan kepadamu.
Aku sudah lupa bagaimana rasanya
mempercayai seseorang, seakan hidupku bergantung padanya. Namun, aku tak pernah
berhenti berpikir positif mengenai semua tentangmu hanya demi membangun
kepercayaan itu.
Pada awalnya, aku hanya sibuk
membuka diriku sepenuhnya padamu. Entah kamu sadar akan itu atau tidak.
Kubiarkan kamu bertanya apapun tentangku yang ingin kamu tau. Kubiarkan kamu mendengar
apapun tentangku yang ingin kamu dengar. Dan kubiarkan kamu melihat apapun
tentangku yang ingin kamu lihat. Aku belum peduli tentang bagaimana masa
lalumu, begitupun lingkup keluargamu. Bahkan lucu nya, aku saja tidak tahu kamu
itu berapa bersaudara, dan anehnya kalau kamu sadari, aku tak pernah memulai
untuk bertanya semua tentang mu sama sekali bukan ? Itu bukan karena aku tidak
perduli. Kamu tau kenapa aku selalu membiarkan orang lain mendalami hidupku dan
tahu baik buruknya aku dahulu ? Itu karena aku tidak ingin ada penyesalan
darimu untukku, aku tidak ingin ada paksaan untuk bersamaku.
Lalu mengapa aku tidak lebih dulu seperti itu denganmu, mencari tahu segala tentangmu? Apalgi banyak wanita pergi setelah tahu fakta mengenai orang yang mendekatinya. Kenapa aku tidak begitu ? Karena jika aku sudah mulai memilih seseorang, apapun dan bagaimanapun dia akan ku jadikan dia pegangan hidupku tanpa penyesalan. Jadi, apabila kamu ingin berlari, berlarilah ... aku masih akan baik baik saja karena aku belum mencintaimu.
Lalu mengapa aku tidak lebih dulu seperti itu denganmu, mencari tahu segala tentangmu? Apalgi banyak wanita pergi setelah tahu fakta mengenai orang yang mendekatinya. Kenapa aku tidak begitu ? Karena jika aku sudah mulai memilih seseorang, apapun dan bagaimanapun dia akan ku jadikan dia pegangan hidupku tanpa penyesalan. Jadi, apabila kamu ingin berlari, berlarilah ... aku masih akan baik baik saja karena aku belum mencintaimu.
Kita mulai sering bertemu dan
berpergian berdua. Semakin lama semua itu akan semakin mengalir apa adanya, aku
yakin itu. Aku akan tetap menjadi aku, dan kamu akan tetap menjadi kamu. Aku
kian lama mulai masuk pada tahap dimana ingin terus tau dimana keberadaanmu,
sedang apa kamu, dan aku ingin bercerita denganmu. Namun, ketika kita tidak
bertemu, aku masih merasa biasa saja, nanti pun kalau kamu libur bekerja, kamu
akan kesini dan kita pergi lagi.
Makin lama aku makin santai
dan merasa kamu adalah bagian dari hari-hariku. Lalu aku mulai masuk pada tahap
dimana semua alasan aku berada adalah karena ada kamu. Aku mulai rindu. Dan aku
mulai mendatangimu meskipun kamu tidak libur bekerja. Faktanya, rindu itu sudah
membuatku menjadi tak sabaran.
Kamu tau, aku seketika sangat menyukai lirik lagu “Bukti –
Virgoun”.
Di bait pertama berbunyi :
“memenangkan hatiku bukanlah satu hal yang mudah kau
berhasil membuatku tak bisa hidup tanpamu”
Ya, aku tau sudah berapa kali kamu mencoba padaku dan itu
tak mudah, tapi pada akhirnya kamu bisa membuat aku merasa benar-benar sulit
jika tidak ada kamu.
Lalu di bagian Reff :
“kamu adalah bukti dari cantiknya
(baiknya) paras dan hati. Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi tentang terang dan
gelapnya hidup ini.”
“Kaulah bentuk terindah dari
baiknya Tuhan padaku. Waktu tak mengusaikan cantikmu (indahmu) kau wanita
(lelaki) terhebat bagiku. Tolong kamu camkan itu.”
Entah kenapa aku selalu merasakan
dalamnya lirik itu dan selalu mengingatmu. ITU KAMU. KAMU BENTUK TERINDAH DARI
BAIKNYA TUHAN SAMA AKU. Aku bersyukur karena orang itu adalah kamu. Pokoknya semua
tentang kamu. Aku bingung bagaimana cara menunjukkan sedalam itu aku ke kamu. Aku
tidak tahu bagaimana cara bersyukur ketika aku punya kamu, dalam semua doa dan sujud
aku, nama kamu adalah muara doa itu.
Bagaimana seharusnya aku menunjukkan
rasa cinta itu sebenarnya ? Bagaimana supaya kamu merasakan dan paham bahwa aku
hanya ingin kamu. Aku banyak belajar selama ini, bagaimana aku harus mengerti
kamu, bagaimana aku harus menerima kamu, bagaimana aku harus sabar dengan kamu,
bagaimana aku bertahan dengan kamu, bahkan untuk selalu tertawa bahagia
bersamamu aku masih harus selalu belajar. Begitu pun dengan belajar memenuhi
apa yang kamu minta. Seandainya aku tidak bisa, ku pikir aku harus bisa, apapun
itu. Demi menjadi lebih baik untukmu.
Aku tau pada kenyataannya aku
bukanlah pasangan yang sempurna, maaf jika selama ini aku banyak menuntutmu
untuk menuruti kehendakku atau bahkan terpaksa mengerti aku. Ya, Aku adalah
sosok yang terlalu rumit dan agak berbeda dari umumnya.
Kamu tahu ? Aku lelah.
Aku sudah lelah berjalan sendiri.
Izinkan aku untuk berhenti disampingmu dan berjalan bersamamu hingga kita berdua
terpisah oleh maut.
Aku sesungguhnya rapuh. Izinkan
aku berpegangan denganmu dan setidaknya aku tidak runtuh ketika bersamamu.
Apa yang sudah ku mulai
bersamamu, apa yang sudah ku lakukan bersamamu, semuanya.. termasuk merasakan
pelukanmu. izinkan aku untuk tetap melakukannya denganmu, sebagai yang terakhir.
Karena sepertinya, untuk membayangkan bersama yang lain lagi pun aku tak
sanggup.
Aku sesungguhnya punya banyak
mimpi. Izinkan aku mewujudkannya bersamamu.
Aku sesungguhnya punya banyak
kemauan. Izinkan aku melakukannya bersamamu.
Aku tahu aku egois. Tapi aku tetap hanya ingin kamu. Tolong bertahan, dan bantu aku membuatnya selalu nyata.
Komentar
Posting Komentar